Sabtu, 20 Oktober 2012

DUNIA BISNIS SAMA HALNYA POLITIK

1 komentar

Asik Nggak Asik oleh: Iwan Fals 

 Dunia politik penuh dengan intrik
 Cubit sana cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran Kalau nggak nyubit nggak asik

 Dunia politik penuh dengan intrik
 Kilik sana kilik sini itu sudah wajar
Seperti orang adu jangkrik
Kalau nggak ngilik nggak asik

Rakyat nonton jadi supporter
Kasih semangat jagoannya
Walau tau jagoannya ngibul Walau tau dapur nggak ngebul

 Dunia politik dunia bintang
Dunia hura hura para binatang Berjoget dengan asik

 Dunia politik punya hukum sendiri
Colong sana colong sini atau colong colongan
Seperti orang nyolong mangga Kalau nggak nyolong nggak asik

Rakyat lugu kena getahnya
Buah mangga entah kemana
 Tinggal biji tinggal kulitnya
Tinggal mimpi ambil hikmahnya

Dunia politik dunia bintang
Dunia pesta pora para binatang Asik nggak asik
Dunia politik memang asik nggak asik
Kadang asik kadang enggak disitu yang asik (katanya)

 Seperti orang main catur Kalau nggak ngatur nggak asik
 Pion bingung nggak bisa mundur
Pion pion nggak mungkin kabur
 Menteri, luncur, kuda dan benteng Galaknya melebihi raja

Raja tenang gerak selangkah
Sambil menyematkan hadiah
Asik nggak asik /
 Politik Asik nggak asik /
Politik Asik nggak asik Asik nggak asik

Jumat, 19 Oktober 2012

Lapangkan hati kita..

0 komentar

Seorang guru Sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampakmurung. “Kenapa kau selalu murung nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?” sang guru bertanya. “Guru, belakanan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi sayau untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda. Sang guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. “Coba ambil segenggam garam itu dan masukan ke dalam segelas air,”kata sang guru. “Setelah itu coba kamu minim airnya sedikit.” Si muridpun melakukanya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.”Bagaimana rasanya?’ Tanya sang guru. “Asin dan perutku jadi mual,”jawab si murid dengan wajah masih meringis. Sang Guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kamu ikut aku.”Sang guru membawanya ke danau di dekat mereka.”Ambil garam yang tersisa dan tebarkanlah ke danau.”Si murid menebarkan segenggam garam sisa ke danau tanpa bicara apapun. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dimulutnya, tapi tak dilakukanya. Tak sopan rasanya meludah di hadapan mursyid. “Sekarang coba kamu minum air danau itu,”kata sang guru sambilmencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si murid menangkupkan kedau tanganya , mengambil air danau dan meminumnya. Ketika air dingin segar mengalir di tenggorokanya, sang Guru bertanya,”Bagimana rasanya?” “Segar, segar sekali,”kata simurid sambil mengelap bibirnya. Tentu saja air danau ini berasal dari sumber mata air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah. “Terasakah rasa garam yang kau taburkan?” tanya sang Guru. “Tidak sama sekali,”kata si murid sambil mengambil air minumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum dan membiarkan muridnya mengambil minum sampai puas. “Nak,”kata sang Guru setelah muridnya selesai minum.”Segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau hadapi dalam hidupmu itu sduah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetapi segitu-gitu aja tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia,walau dia seorang nabi yang terbebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid terdiam mendengarkan.”Tapi Nak, Rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, Berhentilah Menjadi Gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar danau.” Hemm, sahabat terkadang masalah yang kecil menjadi besar tatkala hati kita sempit. Banyak sekali kita menyaksikan dalam perjalanan hidup kita ada orang saling bunuh hanya karena masalah yang kecil. Masalah yang kecil itu menjadi besar tatkala hatinya sempit. Perbesarlah ruang hati kita dan jadilah lebih bijaksana dalam menghadapi masalah. Niscaya solusi akan terhampar seiiring dengan terhapar luarnya ruang hati kita. Bersemangatlah.. Posted by Andi Agung Susarman

Followers

 

Alya-z.blogspot.com. Copyright 2012 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Free Blogger Templates Converted into Blogger Template by Bloganol dot com